Kisah Asy-Syibly:"Allah Memerintahku Menelan Bumi"

Kisah Asy-Syibly:"Allah Memerintahku Menelan Bumi"


Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Sebagian kaum Sufi ada yang bercerita: Aku pernah tinggal bersama asy-Syibli dan aku rnendengarnya berkata, “Allah memerintah bumi untuk menelanku jika dalam diriku ada keutamaan sejak sebulan atau dua bulan untuk menuturkan jibril dan Mikail a.s.”
Aku mendengar al-Hushri berkata: Asy-Syibli berkata kepadaku: “Jika dalam benak Anda pernah terbersit untuk menuturkan Jibril dan Mikail maka Anda telah syirik.”
Sementara itu aku melihat banyak orang yang mengingkari apa yang dikatakan asy-Syibli, karena Jibril dan Mikail memiliki posisi khusus di sisi Allah, dimana mereka termasuk malaikat yang didekatkan kepada Allah (al-muqarrabin).
Dalam sebuah hadis disebutkan, “Aku melihat Jibril seperti alas pelana yang lusuh. Akhirnya aku tahu bahwa ia memiliki keutamaan ilmu dan rasa takut pada Allah lebih dariku.” (al-Hadis).
Mereka kemudian bertanya: Kalau Rasulullah saja menyatakan keutamaan Jibril atas dirinya, lalu bagaimana seseorang bisa mengatakan sebagaimana di atas?
Aku akan menjawabnya — semoga Allah memberi taufik: Sesungguhnya ucapan orang yang sedang wajd dan tak mampu mengendalikan dirinya karena dzikir kepada Allah Swt. adalah bersifat global dan tidak terinci. Bisa jadi ucapan yang bersifat global ada pendahuluan yang tidak sampai kepada orang yang mendengarnya. Ini berbeda dengan ucapan yang bersifat terinci, dimana ia diucapkan secara jelas dan terinci. Sedangkan ucapan yang bersifat global tidak demikian.
Sementara ucapan yang dikisahkan dari asy-Syibli tersebut masih bersifat umum yang ada pendahuluan sebelumnya. Jika seorang yang berakal sehat mendengar mukadimah sebelumnya tentu ia tidak akan bermaksud keji terhadap apa yang diucapkan asy-Syibli. Tapi jika ia tidak mendengar pendahuluannya maka wajar saja ia akan berniatjahat seperti itu lalu hatinya mengingkari.
Abu Muhammad an-Nassaj menuturkan: Ada seseorang datang pada asy-Syibli. Ia bertanya tentang bentuk rupa jibril a.s. Kemudian asy-Syibli menjelaskannya: Aku pernah mendengar dalam sebuah riwayat, bahwaJibril a.s. mampu berbahasa tujuh ratus bahasa, ia juga memiliki tujuh ratus sayap. Di antara sayap-sayap tersebut ada dua sayap. Jika salah satunya direntangkan maka akan menutupi ke seluruh bagian timur, dan jika satunya lagi direntangkan akan menutupi seluruh bagian barat. Lalu mengapa Anda bertanya tentang malaikat yang dunia ini bisa hilang ditutupi oleh kedua sayapnya dan Anda ingin melihat bentuk rupanya yang jelas akan menutup seluruh ufuk? Kemudian asy-Syibli berkata kepada orang tersebut, “Ya!”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas, bahwa bentuk rupa Jibril ketika berada di sisi Kursi seperti rantai yang ada di atas baju besi. Kursi, Jibril dan ‘Arasy bersama seluruh makhluk di alam malakut jika tampak kepada orang-orang berilmu (ma’rifat) mereka hanya seperti pasir di hamparan yang tandus.
Kemudian ia berkata: Wahai orang yang bertanya, ini adalah ilmu yang dimunculkan. Kemudian apakah ilmu-ilmu seperti ini akan sanggup dipikul oleh jasad, atau mampu dibawa oleh tubuh, atau bisa ditangkap oleh akal, atau bisa dilihat oleh penglihatan mata atau bisa masuk ke dalam lubang telinga? Dengan itu semua akan kelihatan, bahwa semua dari-Nya, dengan-Nya dan kepadaNya. Allah memilih untuk menutupi Kerajaan-Nya yang tidak akan cukup untuk yang lain. Dan andaikan dibukakan sebesar dzarrah dari ilmu tersebut, maka tak akan ada rumah yang bisa tetap di bumi, pepohonan tidak akan sanggup bertahan, lautan tak akan sanggup mengalir, malam tak akan bisa gelap dan siang tidak akan bisa memancarkan sinar. Namun Dia Mahabijaksana lagi Mahatahu, bahwa mereka tidak akan sanggup memikul semua itu.
Lebih lanjut asy-Syibli mengatakan: Wahai orang yang bertanya, sesungguhnya Anda bertanya tentang Jibril a.s. dan kondisinya, maka Allah akan memerintah bumi untuk menelanku jika dalam diriku ada keutamaan sejak sebulan atau dua bulan untuk menuturkan jibril dan Mikail as.
Jelaslah bagi kita, apabila ucapan tersebut merupakan ucapan yang masih terkait dan memiliki mukadimah sebagaimana yang telah kami sebutkan, sehingga maknanya menjadi jelas dan gamblang. Kemudian orang yang berusaha mencari kesalahan orang lain bermaksud untuk mengutip sebagian ucapan yang menjadi kontroversial, lalu dengan sengaja menuturkannya kepada orang lain yang sama sekali tidak tahu apa maksudnya, sehingga lidahnya menghujat wali-wali Allah dan orang-orang khusus tanpa dasar dan alasan yang benar, maka tindakan ini adalah termasuk dosa besar. Semoga Allah memberi taufik kepada kita.

TENTANG KONDISI SPIRITUAL ASY-SYIBLI YANG DIINGKARI OLEH BANYAK ORANG
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Di antara kondisi spiritual asy-Syibli yang mereka ingkari adalah, bahwa ia pernah mengenakan pakaian yang sangat mahal, tapi kemudian ia melepas dan membakarnya di atas api.
Disebutkan bahwa ia pernah mengambil sepotong anbar (sejenis parfum) lalu ia bakar di atas api. Kemudian menyerap asapnya di bawah ekor keledai. Disebutkan bahwa ia berkata: Andaikata dunia ini (senilai) sesuap nasi yang ada di mulut anak kecil, maka kami akan menyayangi anak kecil tersebut.
Sebagian orang menuturkan: Aku pernah datang pada asy-Syibli, aku melihat di depannya terdapat buah badam dan gula yang sedang ia bakar.
Juga disebutkan bahwa ia pernah mengatakan: Aku berharap andaikan dunia ini adalah sesuap makanan, dan akhiratjuga sesuap makanan, lalu aku telan ke dalam mulutku, sehingga aku biarkan makhluk tak lagi membutuhkan perantara pada Allah.
Dikisahkan, bahwa ia menjual harta kekayaannya yang tak bergerak. Dari penjualan itu ia mendapatkan uang yang sangat banyak. Ia tidak mau berdiri dari tempat ia menerima uang itu sehingga seluruh uangnya dibagi-bagikan kepada semua orang. Sementara ia tidak menyisakan sepeser pun untuk keluarganya.
Orang-orang mengatakan: Contoh-contoh sperti ini sangat bertentangan dengan ilmu (syariat). Sebab Rasulullah Saw. melarang umatnya untuk menyia-nyiakan harta tanpa guna. Lalu siapa imam yang dianutnya ketika ia memberikan hartanya dan tidak menyisakan sedikit pun untuk keluarganya?
Jawabannya adalah, bahwa imam yang diikuti adalah Abu Bakar ash-Shiddiq saat ia mengeluarkan semua yang dimiliki. Maka pada saat Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Ia menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya.” Tapi Rasulullah tidak mengingkari apa yang dilakukan Abu Bakar.
Sedangkan pengertian menyia-nyiakan harta tanpa guna adalah jika harta itu digunakan untuk maksiat kepada Allah. Dan jika ada seseorang menggunakan satu  (mata uang) untuk maksiat kepada Allah, maka itu juga disebut menghambur-hamburkan harta tanpa guna. Tapi jika ia menggunakan seratus ribu dirham untuk keperluan yang bukan maksiat maka tindakan itu juga tidak disebut menghambur-hamburkan harta tanpa guna.
Sementara apa yang ia bakar itu karena ia anggap akan mengganggu hatinya dalam mengingat Allah.
Allah telah menuturkan hal ini dalam kisah Nabi Sulairnan bin Dawud dimana Dia berfIrman:
“Dan Dawud Kami anugerahi (seorang putra) Sulaiman, Ia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya ia aniat taat (kepada Tuhannya,). (Ingatlah) ketika kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat berlari pada waktu sore itu diperlihatkan kepadanya, maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai barang yang baik (kuda) sehingga melupakanku untuk ingat pada Tuhanku sampai kuda itu tertutup dari pandangan.’ (Ia berkata): ‘Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia mulai mengusap kaki dan lehernya.” (Q.s. Shad: 30-3).
Dikisahkan, bahwa ia memiliki tiga ratus kuda Arab yang tidak pernah dimiliki oleh raja-raja sebelum dan sesudahnya. Kuda itu diperlihatkan padanya, sehingga hatinya hanya disibukkan oleh urusan kuda-kuda tersebut, hingga telat waktu shalat Ashar. ketika itu ia mengatakan, “‘Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia mulai mengusap kaki dan lehernya.” Kemudian ia memotong urat besar dan memenggal kepalanya. Kemudian Allah mengembalikan matahari pada posisinya semula di saat shalat Ashar, sampai ia melakukan shalat Ashar. Demikian yang disebutkan dalam sebuah riwayat Hadis. (H.r. Ibnu Mandah dan Ibnu Syahin, dari Asma’ binti Umais, dan Ibnu Mardawaih dari Abu Hurairah).
Searti dengan masalah ini apa yang diriwayatkan dan Rasulullah Saw, bahwa saat Perang Khandaq, Rasulullah telat melakukan shalat Ashar. Oleh karenaya Rasulullah merasa sangat sedih, sampai ia berkata, “Mereka telah membuatku sibuk sehingga tidak sempat melakukan shalat Ashar. Semoga Allah memenuhi hati dan rumah mereka dengan api.” (H.r. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Abu Dawud dari Ali).
Sebelum itu mereka sering menyakiti Rasulullah Saw, memukul, mengusir, mengejek dan melemparinya dengan kotoran binatang dan darah. Namun pada saat itu Rasulullah tidak mendoakan jelek kepada mereka kecuali ia hanya berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.” (H.r. Ibnu Hibban dan al-Baihaqi dari Sahl bin Saad). Namun tatkala mereka membuat hati Rasulullah tersita oleh kesibukan perang, sehingga telat melakukan shalat Ashar, Rasulullah mendoakan jelek kepada mereka karena saat itu Rasulullah berada dalam kondisi sangat wajd.
Tentu Ini lebih sempurna dalam memberikan arti dari apa yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman a.s.
Jika ada orang bertanya: Apa makna dan rahasia dikembalikannya matahari ke posisi semula dalam kasus Nabi Sulaiman dan tidak dikembalikan lagi dalam kasus Rasulullah?
Maka jawabannya adalah: Sebab Rasulullah Saw. diutus dengan membawa agama yang penuh toleran (al-Hanajiyyatus-Sainhah), sehingga hal itu diperkenankan untuknya. Disamping alasan tersebut adalah karena Nabi disibukkan oleh kewajiban yang lain, sehingga ia tidak bisa melakukan kewajiban shalat Ashar, dimana menggali parit adalah urusan jihad membela agama Allah. Maka tatkala kewajiban jihad menghalanginya untuk melakukan kewajiban shalat ia diperkenankan untuk melakukannya. Sedangkan Nabi Sulaiman tidak ada kewajiban atau sunnah lain yang menghalanginya untuk mengingat Allah. Oleh karenanya ia tidak mendapat keringanan seperti yang terjadi pada Rasulullah Saw. Sementara penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw. dengan diberi keringanan adalah lebih sempurna daripada dikembalikannya matahari ke posisi semula dalam kasus Nabi Sulaiman. Dan andaikata Nabi Sulaiman diberi keringanan seperti Nabi Muhammad tentu matahari tidak akan dikembalikan lagi pada posisinya semula.
Sesungguhnya dalam pandangan ahli hakikat, apa saja yang menyibukkan hatinya sehingga melupakan Allah, baik urusan dunia maupun akhirat, semua itu adalah musuh-musuh mereka. Mereka akan mencari jalan selamat dari hal-hal tersebut sebisa mungkin. Dan mereka menghendaki tidak ada suatu kelebihan apa pun selain Allah. Dan semoga Allah memberi taufik kepada kita.
Adapun ungkapan asy-Syibli, “Aku menginginkan dunia ini adalah sesuap makanan yang aku suapkan di mulut orang Yahudi.” maka itu tak lain karena remehnya dunia dalam pandangannya.
Banyak Hadis yang meriwayatkan tentang tidak bernilainya dunia.
Rasulullah bersabda, “Dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya.” 
Nabi juga bersabda, “Andaikata dunia ini di hadapan Allah memiliki nilai seberat sayap nyamuk maka Allah tidak akan memberi minum pada orang kafir sekalipun hanya seteguk air.”

(Kisah nyata) orang yang akan menghancurkan kubah masjid

(Kisah nyata) orang yang akan menghancurkan kubah masjid

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

KISAH seorang  mati di atas qubbah masjid NABAWY 
Qubbatul Khadhra’ (kubah hijau) yang terlihat megah di Masjid Nabawi adalah menaungi kuburan jasad Rasul Saw yang mulia didampingi kedua sahabatnya sekaligus mertuanya yaitu Abu Bakar Siddiq ra, dan Umar bin Khattab ra.

Tempat tersebut dahulunya adalah rumah baginda Rasul Saw karena setiap Rasul yang diutus oleh Allah Swt dikuburkan di mana dia wafat. Sebagaimana sabda Nabi Saw : Tidak dicabut nyawa seorang Nabi pun melainkan dikebumikan dimana dia wafat. (HR. Ibnu Majah)

Sejarah bercerita, ketika Nabi sampai di Madinah, pertama sekali dikerjakan Nabi Saw adalah membangun Masjid Nabawi dengan membeli tanah seharga 10 dinar kepunyaan dua orang anak yatim Sahl dan Suhail berukuran 3 x 30 m. Bangunan yang sederhana itu hanya berdindingkan tanah yang dikeringkan, bertiangkan pohon kurma dan beratapkan pelepah kurma. Sebelah Timur bangunan Masjid Nabawi dibangun rumah Nabi Saw, dan sebelah Barat dibangun ruangan untuk orang-orang miskin dari kaum Muhajirin yang pada akhirnya tempat itu dikenal dengan tempat ahli Suffah (karena mereka tidur berbantalkan pelana kuda).

Baru pada tahun ke-7 H, Nabi mengadakan perluasan Masjid Nabawi ke arah Timur, Barat, dan Utara sehingga berbentuk bujursangkar 45 x 45 m dengan luas mencapai 2.025 m2 dan program jangka panjang untuk memperluas Masjid Nabawi seperti yang kita lihat sekarang ini diisyaratkan oleh Nabi Saw dengan sabdanya menjelang wafat : “Selayaknya kita memperluas masjid ini”. Hingga pada tahun ke-17 H, Amirul Mukminin Umar bin Khattab khalifah kedua, memperluas ke arah Selatan dan Barat masing-masing 5 m dan ke Utara 15 m, dan dilanjutkan oleh Usman bin Affan khalifah ketiga memperluas ke arah Selatan, Utara dan Barat masing-masing 5 m pada tahun ke-29 H.


Akhirnya pada masa Khalifah Bani Umayyah Al-Walid bin Abdul Malik pada tahun 88 H, memperluas ke semua sisi Masjid Nabawi termasuk ke arah Timur (rumah Nabi) dan kamar-kamar isteri Nabi (hujurat) sehingga makam Nabi Muhammad Saw, Abu Bakar Siddiq, dan Umar bin Khattab termasuk bagian dari masjid dan berada di dalam masjid yang sebelumnya terpisah dari masjid.

Inilah yang menjadi pembahasan para ulama dan fukaha di dalam Fikih Islam, yaitu mendirikan bangunan seperti rumah kubah, madrasah, dan masjid di atas kuburan. Karena Nabi Saw bersabda : Allah mengutuk umat Yahudi dan Nasrani yang membuat kuburan para nabi mereka menjadi masjid-masjid (tempat peribadatan). (HR. Bukhari Muslim) Hadis di atas dipahami oleh sebagian ulama terutama di kalangan pengikut Syekh Muhammad bin Abdul Wahab (Th. 1115 H/ 1703 M di Masjid Saudi Arabia, dan aliran ini disebut oleh para rivalnya sebagai aliran Wahabiyah, dan di Indonesia dengan aliran Salafi). Secara umum, tidak boleh melakukan kegiatan ibadah di atas kuburan, berdoa menghadap kuburan, dan membangun kubah di atas kuburan.

Sama ada di atas tanah wakaf atau di atas tanah pribadi. Sama ada untuk tujuan penghormatan atau mengambil berkah dan mengagungkan kuburan karena semua itu adalah perbuatan sia-sia sebagaimana dipahami oleh Sayyid Sabiq di dalam Fikih Sunnah-nya. Sejalan dengan tujuan berdirinya aliran Wahabiah ini untuk memurnikan Tauhid, aliran ini cukup gencar memusnahkan kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan, batu-batu nisan yang bertuliskan nama-nama yang sudah wafat, ayat-ayat Alquran yang tertulis di batu-batu nisan, kuburan-kuburan para wali yang dikeramatkan agar jangan terjadi khurafat, syirik dan bid’ah di dalam Tauhid dan ibadah umat ini. Dan siapa saja di antara umat Islam yang melakukan itu mereka bukan lagi penganut Tauhid yang sebenarnya, karena mereka meminta pertolongan bukan kepada Tuhan lagi, melainkan dari syekh atau wali dan dari kekuatan gaib, dan orang-orang yang demikian juga menjadi musyrik. Kenyataan itu dapat dilihat sampai sekarang, bagi jamaah haji yang berkunjung ke makam Rasul, ke Baqi’, ke Ma’la, ke Uhud, dimana para penziarah diusir karena mendoa menghadap ke kuburan Nabi Saw. Demikian juga bila kita berziarah ke Baqi’ dan Uhud, tidak ada satu kuburan pun yang diberi nama atau tanda untuk membedakan antara kuburan sahabat-sahabat yang senior, para ahli hadis, bahkan kuburan Aisyah dan isteri-isteri Nabi pun tidak dapat dibedakan. Kalau penziarah bertanya kepada para “Satpam” kuburan baqi’ mana kuburan isteri Nabi? Mana kuburan Usman bin Affan? Mereka hanya menjawab “ana la adri” (saya tidak tau).


Upaya Wahabi untuk memurnikan Tauhid umat Islam lewat pemusnahan simbol-simbol kuburan, batu nisan, dan kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan dilakukan secara besar-besaran pada masa Raja Abdul Azis. Tepatnya pada 8 Syawal 1345 H, bertepatan 21 April 1925 M, dimana kuburan baqi’ yang tersusun rapi di sana dimakamkan ahlil bait Nabi dan puluhan ribu para sahabat, termasuk kuburan Khadijah isteri Nabi yang pertama ummul mukminin (ibu dari orang-orang beriman) di Ma’la – Makkah, semuanya rata dengan tanah. Terakhir ada seorang manusia yang memanjat kubah hijau Masjid Nabawi untuk dihancurkan, lalu disambar petir secara tiba-tiba dan mati. Mayatnya melekat pada kubah hijau tersebut dan tidak dapat diturunkan sampai sekarang. Syekh Zubaidy, ahli sejarah Madinah menceritakan ada seorang soleh di kota Madinah bermimpi, dan terdengar suara yang mengatakan “Tidak ada satu orang pun yang dapat menurunkan mayat tersebut, agar orang yang belakangan hari dapat mengambil, i’tibar”.


Hingga sekarang mayat tersebut masih ada dan dapat disaksikan langsung dengan mata kepala. Bagi yang tidak dapat berkunjung ke sana dapat mengakses internet google “Ada Mayat di atas Kubah Masjid Nabawi”. Pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini, terlepas dari kebenarannya, bahwa kembali kepada Tauhid yang murni seperti zaman Rasul Saw adalah tujuan dari dakwah Islam dan misi para Rasul dan umat Islam mesti menerimanya, jika tidak ingin menjadi orang musyrik. Akan tetapi pemeliharaan nilai sejarah dan para pelaku sejarah juga penting, karena Allah berfirman : Sungguh di dalam sejarah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. (QS. Yusuf : 111). Akhirnya jika pelaku sejarah tidak boleh dikenang, tidak dimuliakan, tidak dihormati, kuburannya diratakan, bagaimana kita mengambil pelajaran dari sejarah tersebut? Adapun maksud Nabi Saw Allah mengutuk Yahudi dan Nasrani menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, adalah menyembah kuburan. Semoga kita dapat pelajaran. Wallahua’lam ***** (H.M. Nasir, Lc, MA : Penulis adalah Pimpinan Pondok Pesantren Tahfiz Alquran Al Mukhlisin Batubara, Pembantu Rektor IV Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan )

sumber : http://ashakimppa.blogspot.com/

LIMA PERINTAH YANG ANEH

LIMA PERINTAH YANG ANEH


Sebuah kisah teladan, Lima Perintah yang aneh, di ceritakan oleh Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan untuk melakukan perjalanan,"Esok engkau supaya keluar dari rumah pada waktu pagi menuju ke barat. Engkau supaya berbuat :
1.Makanlah apa yang negkau lihat (hadapi)
2.Engkau sembunyikan,
3.Engkau terimalah,
4.Jangan engkau putuskan harapan,
5.Larilah engkau darinya."

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan sesuatu yang pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Saat ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu keluar lagi. Nabi itu pun menanamkannya lagi hingga tiga kali berturut-turut.
Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu, mangkuk emas itu keluar lagi dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia melihat seekor burung elang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku."
Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihat keadaan itu, lantas burung elang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Maka dari itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, yaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada elang itu. Setelah mendapat daging itu, elang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya.

Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ karena tidak tahan menghirup bau yang menyakitkan hidungnya.

Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya Allah, aku telah melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku arti semuanya ini."

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T. bahawa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit, tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu.

Kedua; semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak juga.
Ketiga; jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya.
Keempat; jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat.
Kelima; bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan orang lain). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita terapkan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah membicarakan orang lain, memang menjadi tabiat seseorang itu suka membicarakan orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."

Maka berkata Allah S.W.T., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngatakan tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sadar bahwa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata-ngatakan hal orang lain walaupun ia benar.

sember : http://kanganwar.blogspot.com/

MAJELIS 1-6 Dialog antara Iblis dan Nabi Isa as

Nabi Isa as menyatakan bahwa dirinya bukanlah Tuhan, melainkan hanya hamba Allah SWT seperti kebanyakan Nabi dan Rasul lainnya.
Kisahnya.

Pada suatu hari Nabi Isa as bertemu dengan iblis laknatullah dan terjadilah percakapan antara keduanya.

Dialog Pertama

Iblis: Wahi Isa bin Maryam, dari sifat Ketuhanan itu sampai engkau mampu berbicara ketika engkau masih bayi. Padahal tak seorang pun yang mampu berbicara seperti engkau sebelum kamu.
Nabi Isa as: Yang memiliki sifat Ketuhanan itu adalah Dzat yang membuat saya mampu berbicara dan Dzat yang mematikan saya, kemudian menghidupkan saya kembali.

Iblis: Bukan begitu maksudku, akan tetapi engkaulah orang yang telah sampai pada tingkat menjadi Tuhan sehingga engkau mampu menghidupkan orang yang telah meninggal dunia.
Nabi Isa as: Bukan begitu, sifat Ketuhanan itu adalah milik ALlah SWT sebagai Dzat yang menghidupkan dan mematikan orang yang saya matikan lalu dihidupkan Allah SWT.
(Jadi bukan saya yang menghidupkan, maksud-red).
Saya hanya perantara saja.
Iblis: Demi Allah, engkau adalah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi.

Begitu iblis berbicara demikian, maka turunlah Malaikat Jibril yang dengan sayapnya, Iblis dipukul sampai ke matahari. Lalu ada pukulan sayap yang kedua iblis terlempar sampai ke sumber air panas lalu dilempar lagi sampai ke lautan yang ke tujuh.

Dialog ke Dua

Ketika Nabi Isa as mengerjakan shalat di Baitul Maqdis, ia ditemui oleh iblis dan berkata,
"Sesungguhnya engkau tidak pantas menjadi seorang hamba, sebaiknya engkau menjadi Tuhan."
Namun Nabi Isa as selalu berusaha melepaskan diri dari gangguan iblis terlaknat itu, namun masih belum bisa terlepas.

Kemudian Iblis berkata lagi,
"Tidak patut engkau menjadi hamba."
Nabi Isa as lalu memohon pertolongan kepada Allah SWT dan kemudian Jibril datang bersama Mikail. Iblis dikepung lalu iblis dihantam dengan sayap Malaikat Jibril dan dibuang ke lembah jurang.

Iblis tidak kenal menyerah dan putus asa dalam menjalankan tugasnya.
Iblis lalu datang lagi kepada nabi Isa as, karena iblis tahu bahwa kedua malaikat itu tidak diutus kecuali hanya untuk itu saja, lainnya tidak.

Iblis mengulangi ucapnnya kepada Nabi Isa as bahwa Nabi Isa as tidak patut menjadi hamba.
Iblis berkata,
"Aku tahu apa yang terjadi ketika engkau marah. Aku mengajakmu untuk sesuatu yang memang seharusnya menjadi hakmu yaitu memerintah setan supaya setan itu tunduk kepadamu, sebab apabila manusia mengetahui bahwa setan-setan itu tunduk kepadamu, maka manusia pun lalu taat kepadamu dan menyembahmu."

"Aku tidak mengatakan bahwa engkau adalah Tuhan dan tidak ada Tuhan yang lain. tetapi maksud saya engkau adalah Tuhan di bumi dan Allah SWT Tuhan di langit."
Mendengar perkataan iblis yang demikian itu, Nabi Isa as berteriak sekeras-kerasnya hingga Malaikat Israfil turun ke bumi.

Malaikat Jibril dan Mikail yang melihat hal itu segera menangkap iblis kemudian Malaikat Israfil menghantam iblis dengan sayapnya lalu dibuang ke matahari. Nabi Isa as kemudian pergi, tapi masih sempat saja iblis menggoda.
"Wahai Isa, aku bertemu engkau pada hari ini mengalami kesulitan yang sangat luar biasa."

Dialog Ketiga.

Iblis laknatullah masih juga belum kapok meskipun telah dihantam sayap malaikat.
Pada suatu hari, iblis menemui lagi Nabi Isa as dan terjadilah percakapan lagi.

Nabi Isa as: Apakah kamu tidak tahu bahwa sesuatu tidak akan emnimpamu kecuali jika telah ditakdirkan kepadamu?
Iblis: Sekarang coba saja naik ke puncak gunung sana lalu jatuhkan tubuhmu dari puncak gunung itu, apakah engkau hidup atau mati?
Nabi Isa as: Apakah kamu belum mengetahui bahwa Allah SWT berfirman,
"Janganlah hambaKu mengujiKu, karena Aku berbuat sesuatu atas kkemauanKu."
maksudnya adalah jika ALlah SWT menghendaki masih hidup, maka tidak akan mati orang yang terjun dari puncak gunung. Karena hamba tidak bisa menguji Tuhannya tetapi Tuhanlah yan menguji hambaNya.

Iblis: Apakah kamu tidak mengatakan benar? Cobalah ambillah wadah lampu, kemudian pukulkan ke tubuhmu, tentu engkau akan kesakitan bukan?
Nabi Isa as: Kamu ini celaka, bukankah Allah SWT telah melarang seseorang untuk memohon atas kerusakan tubuh.

Dari Kisah Islamiah, dialog antara Nabi Isa as dan Iblis tersebut dapat diambil pelajaran bahwa segala sesuatu yang terjadi dan yang akan terjadi adalah merupakan kekuasaan dan kehendalk ALlah SWT.

Siapapun dia, bagaimanapun hebatnya, tidak akan mampu lari dari takdir Allah SWT
Wallâhu a’lam   

MAJELIS 1-3 Membangun Rumah Di Surga

Membangun Rumah Di Surga

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ

MEMBANGUN RUMAH DISURGA

.
Maukah Anda memiliki tempat tinggal atau rumah di Surga?
Apakah Anda berharap memiliki kamar atau tenda di surga?
Apakah Anda sangat menginginkan rumah atau istana di surga?
Bila Anda menginginkannya dengan jujur dari lubuk kalbu, Maka amalkanlah amalan-amalan berikut dengan ikhlas mengharap keridhaan Allah untuk mewujudkan impian dan harapan tersebut.
Percaya atau Tidak ?!
Mungkin Anda mendapatkan rumah di surga dengan izin Allah hanya dengan :
  • Beramal satu amalan yang hanya menghabiskan 30 menit per hari.
  • Beramal menghabiskan 20 menit saja per hari!!
  • Beramal menghabiskan 15 menit saja!!
  • Bberamal menghabiskan 3 menit saja!!
  • Beramal menghabiskan 15 detik saja!!
  • Beramal menghabiskan 3 detik saja!!
Spektakuler!!!!!
|
Apabila Anda sudah ingin sekali mengetahui amalan tersebut, maka lihatlah keterangan dibawah ini.

:::::> 1. Iman kepada Allah

Karena siapa yang hidup dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan iman kepada Allah maka mendapatkan kemah di Surga dengan izin Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda:
((إِنَّ لِلْمُؤْمِنِ فِى الْجَنَّةِ لَخَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ وَاحِدَةٍ مُجَوَّفَةٍ طُولُهَا سِتُّونَ مِيلاً لِلْمُؤْمِنِ فِيهَا أَهْلُونَ يَطُوفُ عَلَيْهِمُ الْمُؤْمِنُ فَلاَ يَرَى بَعْضُهُمْ بَعْضًا))
“Sesungguhnya seorang mukmin mendapatkan kemah di surga dari satu mutiara yang berongga, panjangnya 60 mil.
Seorang mukmin juga memiliki para istri di surga yang seorang mukmin keliling menggilirnya.
Sebagian mereka tidak melihat sebagian lainnya.”
(HR Muslim).

:::::> 2. Iman kepada Allah dan amal shalih

{وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُم بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِندَنَا زُلْفَى إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ لَهُمْ جَزَاء الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا وَهُمْ فِي الْغُرُفَاتِ آمِنُونَ}
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikit pun;
Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka Itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di kamar-kamar (dalam surga).”
(QS. Saba’: 37)
Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya 3:714:
أي في منازل الجنة العالية آمنون من كل بأسٍ وخوف وآذى ومن كل شر يُحذر منه
Maksudnya adalah rumah-rumah surga yang tinggi dalam keadaan aman dari semua kekerasan, ketakutan, dan ganguan serta seluruh keburukan yang tidak disukai.

:::::> 3. Iman kepada Allah dan RasulNya serta berjihad di Jalan Allah

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (11) يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}[الصف (10-12
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu.
Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai;
Dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.”
(QS. Ash-Shaf :10-12).
Ibnu katsir menjelaskan dalam tafsirnya 4:464 :
أي إن فعلتم ما أمرتكم به ودللتكم عليه غفرت لكم الزلات، وأدخلتكم الجنات والمساكن الطيبات والدرجات العاليات.
“Maksudnya apabila kalian lakukan yang telah Aku perintahkan kepada kalian dan telah Aku tunjukkan, maka Aku akan mengampuni semua kesalahan kalian dan Aku masukkan kedalam Surga dan berikan tempat tinggal yang baik dan derajat yang tinggi.

:::::> 4. Iman kepada Allah dan membenarkan para Rasul.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda:
إنَّ أهْلَ الجَنَّةِ لَيَتَرَاءوْنَ أَهْلَ الغُرَفِ مِن فَوْقِهِمْ كَمَا تَرَاءوْنَ الكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الغَابِرَ فِي الأُفُق مِنَ المَشْرِقِ أو
المَغْرِبِ لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ )) قالُوا : يا رسول الله ؛ تِلْكَ مَنَازِلُ الأنبياء لاَ يَبْلُغُها غَيْرُهُمْ قال : (( بَلَى والَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ ، رِجَالٌ آمَنُوا بِاللهِ وَصَدَّقُوا المُرْسَلِينَ )) . متفق عليه .
“Sesungguhnya penduduk surga melihat-lihat pemilik kamar-kamar di atas mereka sebagaimana melihat bintang-bintang gemerlapan di langit dari timur atau barat karena perbedaan tingkat diantara mereka.
Mereka bertanya: Wahai Rasulullah ! itu rumah-rumah para Nabi yang tidak akan bisa mencapainya selain mereka? Nabi menjawab: Tidak, demi Allah yang jiwaku ditanganNya (dapat dicapai) oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul.”
(Muttafaqun ‘alaihi).

:::::> 5. Takwa kepada Allah

Seperti dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
{لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ غُرَفٌ مِّن فَوْقِهَا غُرَفٌ مَّبْنِيَّةٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ}
“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang Tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya.”
(QS az-Zumar : 20)
Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya 4:64:
أي مساكن عالية طباق بعضها فوق بعض
Maksudnya rumah yang tinggi bertingkat.

:::::> 6. Meminta terus menerus dengan ikhlas Agar dikaruniai Allah mati syahid.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam sabdanya:
((مَنْ سَأَلَ الله تَعَالَى الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ))
“Siapa yang meminta kepada Allah mati syahid dengan jujur, niscaya Allah akan menyampaikannya ke tingkat (tempat tinggal) para syuhadak kendati ia mati di atas kasurnya.”
(HR. Muslim)
Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan dalam Syarah Riyadh ash-Shalihin, 1:285:
فإذا سأل الإنسان ربه وقال : اللهم إني أسألك الشهادة في سبيلك – ولا تكون الشهادة إلا بالقتال لتكون كلمة الله هي العليا – فإن الله تعالى إذا علم منه صدق القول والنية أنزله منازل الشهداء وإن مات في فراشه
“Apabila seorang meminta kepada Allah dan berkata: Wahai Allah! Sesungguhnya aku memohon kepada Engkau mati syahid dijalan-Mu, -mati syahid tidak ada kecuali dengan perang untuk meninggikan kalimat Allah- maka Allah apabila mengetahui darinya kejujuran ucapan dan niat maka Allah akan tempatkan di rumah-rumah Syuhada’ walaupun meninggal diatas tempat tidur.”
Bagaimana kita tidak mau memanfaatkan pahala besar ini yang hanya butuh sekitar 5 detik saja!

:::::> 7. Membangun masjid lillah Walaupun hanya sebesar lubang tempat bertelurnya burung.

Bagaimana tidak?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda:
مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ)) [صحيح الجامع : 6128
“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya (rumah) seperti itu pula di surga.”
(HR. Ibnu Majah, Al-Baihaqi, al-bazzar dan ibnu Hibban dalam shahihnya dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 6128)
Makna (مفحص قطاة) artinya lubang yang dipakai burung menaruh telurnya. Dan (قطاة) adalah sejenis merpati liar.
Al-Haafizh ibnu Hajar berkata dalam al-Fath, 1:679:
((من بني مسجداً)) التنكير فيه للشيوع. فيدخل فيه الكبير والصغير
“(Siapa yang membangun masjid) bersifat nakirah untuk menyeluruh pada jenisnya, sehingga masuk yang besar dan yang kecil.
Bahkan pahala tersebut berlaku pada orang yang bersedekah walaupun hanya satu bata saja atau senilainya untuk pembangunan masjid.

:::::> 8. Ke masjid waktu subuh Dan malam hari untuk shalat jamaah dan kegiatan ibadah lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((مَنْ غَدَا إِلَى المَسْجِد أَوْ رَاحَ ، أَعَدَّ اللهُ لَهُ في الجَنَّةِ نُزُلاً كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ)). متفق عليه
“Siapa yang ke masjid waktu subuh atau malam hari, maka Allah menyiapkan baginya tempat tinggal di surga setiap kali ia berangkat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Al-Haafizh ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 2:183, menyatakan:
(نُزُلاً) dengan di-dhommah-kan huruf nun dan zainya berarti tempat yang disiapkan untuk istirahat dan dengan disukunkan huruf zai-nya berarti semua yang disiapkan untuk yang baru datang berupa penyambutan tamu dan sejenisnya.
Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin, 3:202 menyatakan:
((وظاهر الحديث أن من غدا إلى المسجد أو راح، سواءً غدا للصلاة أو لطلب علم أو لغير ذلك من مقاصد الخير أن الله يكتب له في الجنة نزلاً((
Makna tekstual dari hadis ini menunjukkan bahwa orang yang pergi ke masjid pagi-pagi atau sore hari, baik berangkat pagi-pagi untuk shalat atau menuntut ilmu atau selainnya dari kebaikan, maka Allah akan menetapkan untuknya tempat tinggal di surga.

:::::> 9. Menyambung barisan dalam shalat Dengan menutup sela-sela antara dia dengan sebelahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
مَنْ سَدَّ فُرْجَةًّ بَنَي اللهُ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً . الصحيحة : 1892
“Siapa yang menutup sela-sela barisan dalam shalat, maka Allah bangunkan rumah di surga dan angkat derajatnya.”
(HR al-Muhaamili dalam amaalinya dan dishahihkan al-Albani dalm Silsilah ash-Shahihah no. 1892).
Gimana tidak mau? ….. Hanya cukup 3 detik saja!

:::::> 10. Shalat sunah rawatib sebanyak 12 rakaat setiap hari.

Yakni,
  • 4 rakaat sebelum shalat zuhur dan dua rakaat setelahnya,
  • 2 rakaat setelah shalat maghrib,
  • 2 rakaat setelah shalat isya dan dua rakaat sebelum shalat subuh.
Rasul shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
((مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً من السُنة بَنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ)). [صحيح الجامع : 6183]
“Siapa yang selalu shalat 12 rakaat setiap hari dan malam, maka dibangunkan baginya rumah di surga.
Yakni 4 rakaat sebelum shalat zuhur dan 2 rakaat setelahnya, 2 rakaat setelah shalat maghrib, 2 rakaat setelah shalat isya dan 2 rakaat sebelum shalat subuh.”
(HR an-nasaa’i dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 6183)
Juga Imam Muslim meriwayatkan dari an-Nu’maan bin Salim dari Amru bin Aus beliau berkata:
“Telah menceritakan kepadaku Ambasah bin Abi Sufyaan dalam masa sakit yang membawanya pada kematian satu hadis yg dibanggakannya.”
Ambasah berkata: Aku mendengar Ummu Habibah berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
((مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ)) )مسلم(
“Siapa yang shalat 12 rakaat setiap hari dan malam, maka dibangunkan baginya rumah di surga”
قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.
وَقَالَ عَنْبَسَةُ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ أُمِّ حَبِيبَةَ.
وَقَالَ عَمْرُو بْنُ أَوْسٍ مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَنْبَسَةَ.
وَقَالَ النُّعْمَانُ بْنُ سَالِمٍ مَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ
Ummu Habibah berkata: “Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Rasulullah.”
Ambasah berkata: “Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Ummu habibah.”
Amru bin Aus berkata: “Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Ambasah.”
An-Nu’maan bin Saalim berkata: “Tidaklah aku meninggalkannya sejak aku mendengarkannya dari Amru bin Aus.”
Bagaimana mungkin seorang tidak menginginkan pahala ketaatan ini. Ketaatan yang hanya menghabiskan kurang lebih 30 menit.

:::::> 11. Shalat dhuha empat rakaat dan empat rakaat sebelum zuhur

Seperti yang diriwayatkan Al-bani dan kumpulan hadist-hadis shahih, Rasul shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda :
((مَنْ صَلَّى الضُّحَى أَرْبَعاً وَقَبْلَ الأُوْلَى أَرْبَعاً بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ)) [الصحيحة : 2349]
“Siapa yang shalat dhuha empat rakaat dan empat rakaat sebelum shalat pertama (shalat zuhur), maka dibangunkan baginya rumah di surga.”
(HR ath-Thabrani dalam al-Ausath dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Ahaadits Shahihah no. 2349)
Syaikh al-Albani menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan shalat pertama adalah shalat zuhur.
Bagaimana mungkin seorang meninggalkannya padahal hanya butuh 20 menit saja.

:::::> 12. Meperbanyak membaca surat Al-Ikhlas, minimal 10 kali setiap hari.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ حَتَّى يَخْتِمَهَا عَشْرَ مَرَّاتٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ قَصْرًا فِي الْجَنَّةِ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ إِذَنْ أَسْتَكْثِرَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُ أَكْثَرُ وَأَطْيَبُ [الصحيحة : 2/137]\
“Siapa yang membaca qulhuwa allahu ahad sampai selesai sebanyak sepuluh kali, maka Allah akan membangunkan baginya istana di surga.”
Umar bertanya: “Kalau begitu kita memperbanyak istana wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Allah lebih banyak dan lebih baik.”
(HR. Ahmad dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 589 juz 2:137).
Bagaimana seorang meninggalkan pahala besar ini, padahal hanya butuh 3 menit saja!

:::::> 13. Bicara yang baik

:::::> 14. Memberi makan pada fakir miskin

:::::> 15. Rajin berpuasa

:::::> 16. Shalat malam (tahajjud).

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِمَنْ أَطَابَ الْكَلَامَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ
“Sesungguhnya di surga itu ada kamar-kamar yang dapat dilihat luarnya dari dalamnya, dan dalamnya dari luarnya.”
Maka seorang Badwi berkata: “Untuk siapa itu wahai Rasulullah?”
Beliau berkata: “Untuk orang yang baik perkataannya, memberikan makan pada orang lain, terus menerus berpuasa (puasa Daud) dan shalat di malam hari sedangkan manusia sedang tidur nyenyak.”
(HR. At-Tirmizi dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1984)

:::::> 17. Meninggalkan perdebatan kendati mengandung unsur kebenaran

:::::> 18. Menjauhi berbohong

:::::> 19. Selalu berakhlak baik.

(( أنا زعيمٌ ببيت في ربض الجنة لمن ترك المراء وإن كان محقاً وبيتٍ في وسط الجنة لمن ترك الكذب وإن كان مازحاً وبيت في أعلى الجنة لمن حسن خلقه)). [صحيح أبي داود : 4015]
“Saya menjamin sebuah rumah di surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan kendati dia benar, rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kebohongan kendati hanya bercanda, dan rumah di lantai atas surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya (sampai menjadi akhlak hasanah).”
(HR. Abu Daud dishahihkan al-Albani dalam shahih sunan Abi dawud no. 4015)

:::::> 20. Sabar atas kematian anaknya.

Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
((إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللَّهُ لِمَلَائِكَتِهِ قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ فَيَقُولُونَ نَعَمْ فَيَقُولُ مَاذَا قَالَ عَبْدِي فَيَقُولُونَ حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ فَيَقُولُ اللَّهُ ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ )) [الصحيحة : 1408]
“Apabila wafat anak seorang hamba (manusia), maka Allah berkata pada malaikat-Nya: Kalian telah mengambil nyawa anak hamba-Ku?
Mereka menjawab : “Benar.”
Allah berfirman lagi: “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?”
Maka malaikatpun menjawab: “Benar.”
Lalu Allah berkata: “Apa yang dikatakan hamba-Ku itu?”
Mereka menjawab: “Dia memuji-Mu dan mengucapkan: ‘Innalillahi wa inna ialihi raji’un’.”
Maka Allah berfirman: “Bangunkan bagi hamba-Ku itu rumah di surga dan beri nama rumah itu dengan “Baitul Hamdi (Rumah Pujian).”
(HR. At-Tirmizi dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Ahadis Shahihah, no. 1408)

:::::> 21 dan 22. Mengunjungi orang sakit atau saudara seiman

Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
((مَنْ عَادَ مَرِيضاً أَوْ زَارَ أخاً لَهُ في الله ، نَادَاهُ مُنَادٍ : بِأنْ طِبْتَ ، وَطَابَ مَمْشَاكَ ، وَتَبَوَّأتَ مِنَ الجَنَّةِ مَنْزِلاً)). [صحيح الترمذي : 1633]
“Siapa yang mengunjungi orang sakit atau saudaranya seiman (seagama Islam), maka ia diseru oleh orang (malaikat): ‘Engkau adalah orang baik dan baik pula perjalananmu dan Allah telah menyiapkan bagimu rumah di surga’.”
(HR. At-Tirmizi dan dishahihkan al-Albani dalan Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1633)
Sungguh agung pahala amalan yang hanya menghabiskan kurang lebih seperempat jam saja.

:::::> 23. Membaca doa masuk pasar.

Seperti dijelaskan dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:
مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَبُنِيَ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ
Siapa yang masuk pasar berdoa dengan doa:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiit, wa huwa hayyun laa yamuut, bi yadihil khoir, wa huwa ‘ala kulli sya-in qodiir”
“Maka Allah akan tetapkan sejuta kebaikan dan menghapus darinya sejuta dosa dan mengangkat sejuta derajat serta dibangunkan baginya rumah di surga.”
(HR at-Tirmidzi dan ibnu Majah dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jaami’ no. 11176)
Inipun tidak membutuhkan lebih dari 15 detik!
|

Sekarang percayakah Anda?

Anda membangun rumah di surga hanya dalam waktu:
  • 30 menit dengan melaksanakan 12 rakaat sunah rawatib perhari.
  • 20 menit dengan melaksanakan 8 rakaat (4 rakaat dhuha dan 4 rakaat sebelum zuhur).
  • 15 menit dengan menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudara karena Allah.
  • 3 menit dengan membaca surat al-Ikhlash 10 kali.
  • 15 detik dengan berdoa ketika masuk pasar.
  • 5 detik dengan memohon kepada Allah mati syahid.
  • 3 detik dengan merapatkan barisan shalat dan menutupi sela-sela antara kamu dengan sebelahmu.
Subhanallah dengan amalan mudah seperti ini mendapatkan rumah di surga yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau :
الجنة بناؤها لبنة من فضة و لبنة من ذهب و ملاطها المسك الأذفر و حصباؤها اللؤلؤ و الياقوت و تربتها الزعفران من يدخلها ينعم لا يبأس و يخلد لا يموت لا تبلى ثيابهم و لا يفنى شبابهم
“Bangunan di surga batu batanya dari perak dan dari emas. Tanah lapisannya dari minyak kesturi terbaik dan lantainya dari mutiara dan batu yaqut, tanahnya adalah za’faran.
Siapa yang memasukinya akan mendapatkan kenikmatan yang tidak putus dan kekal yang tidak ada kematian, pakaian mereka tidak rusak dan usia mudanya tidak hilang.”
(HR Ahmad dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairoh dan Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jaami’ no. 3116)
|

Mari beramal untuk membangun RUMAH di surga!

Sebarkan Artikel ini…

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”
(HR Muslim no. 2674).
Sumber :  PengusahaMuslim.com

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬
SEMOGA BERMANFA’AT – ALHAMDULILLAH
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬


sumber : https://saputra51.wordpress.com/

Diberdayakan oleh Blogger.

About

Widget Footer